Semakin larut malam rasanya semakin menakutkan. Itu yang aku alami ketika sekolah menyelenggarakan kegiatan atau event tahunan pesantren kilat. Pesantren kilat ini diikuti oleh seluruh siswa/i kelas 4, 5, dan 6 SD. Tak terkecuali aku. Dulu aku emang penakut sebenarnya, cuman tampangnya aja, sok berani, hehee.. Sebenarnya aku sudah mewanti-wanti kegiatan ini sebelumnya, soalnya di tahun-tahun sebelumnya, kelas 4 dan 5 aku bener-bener keder menghadapinya.
Jalan Malam Sendirian atau waktu itu biasa disingkat Jamas, merupakan program tahunan sekolah, yang bertujuan untuk menguji seberapa besar kekuatan iman kami waktu itu, memang dulu kami masih kecil dan harus ikut ujian kayak gituan :v dan bener-bener ngefek banget sih, yang tadinya atakut kalo mau ke dapur sendirian, abis pulang dari mabit pesantren kilat, biasanya nggak takut lagi. dan itu bener-bener bisa mempengaruhi.
Disini aku menceritakan pengalaman Jamasku ketika SD kelas 6, waktu itu kami memang paling senior dan kelas paling tua yang mengikuti mabit ini. Jadi aku tidak bisa bersikap seperti bocah kelas junior, dan harus menerima apapun resikonya, heheee... Ngeri bosku :v
Jamas yang aku ikutin ini tidak semenantang tahun lalu dan rutenyapun sangat pendek daripada tahun-tahun sebelumnya, tapi lebih ngeri tahun ini. Ketika namaku dipanggil, aku dengan gentle dan pedenya, langsung berjalan sesuai rute awal, yaitu melewati gerbang belakang sekolah, yang memang terkenal sangat angker dan mengerikan, karena disana ada kuburan bayi. Ngeriiiiii :v Selanjutnya berjalan dan melewati rumah kosong yang terkenal gelap, dan ada anjingnya, jadi kalau lewat bisa digonggongin sama anjingnya :v
kemudian, ketika sampai di pos pertama, ada mas Yafi, angkatan tiga kelas diatasku, yang memang menjadi panitia dalam jamas itu. Dan aku bertanya, "Arahnya kemana, Mas?" Dia menjawab, "Ke jembatan gantung yaaahhh.." Dalam hati ku bersambat ria, "Waduh, itu kan gelap banget, mana nggak ada penerangan lagi, ya minimal ada satu lampu atau senter, ini udah gak ada lampu, gak boleh membawa senter, ya udah deh, mau nggak mau harus jalan menyusuri jembatan yang gelap itu." Merinding pake banget disana tau!
Kemudian, setelah melewati jembatan itu, disuruh mbalik lagi coba :v emang beneeer keterlaluannya yah, kakak kelas yang ngerjain sekali dengan membuar rute berputar :v, dan aku melewat pohon jambu disebelah kiri aku. Dan aku memang tidak melihat apa-apa, tapi aku merasa kayak ada yang ngawasi dan ngelihat aku jalan, tapi yaa bodoh amat sih, aku kan nggak bisa ngeliat gituan. ( ceritanya ini sombong tapi bersyukur juga :v )
Sesampainya di sekolah, rame tuh banyak yang cerita kalo ustadz Ari ngelihat Kuntilanak di pohon jambu deket jembatan, Sontak aja aku kaget bukan main. Dalam hati kuterngiang, "Itu kan pohon jambu yang aku lirikkin dari tadi. Perasaanku tadi disana nggak ada apa-apa." Hiih, jadi nambah merinding :v Ini merupakan cerita horror yang paling berkesan ketika mabit pesantren kilat. Walau nggak ngeliat secara langsung, tapi karena emang ngelewatin pohonnya. Jadi ikut merinding :v
#22
Komentar