Langsung ke konten utama

Aulia Pindah, Sekelas Nangis

Dalam memberikan arti kasih dan sayang terhadap teman yang menjadi bagian dari keluarga adalah besar. Semua dimulai dari pertemuan, pertemuan yang memang sudah direncanakan Tuhan. Kami menjadi keluarga besar SD Islam Al-Hikmah angkatan VII, dan semua memori kebersamaan membuyar dan mengiang ketika kawan, sahabat, keluarga seperjuangan kami meninggalkan kami, disaat kami masih sayang-sayangnya.

Rasanya begitu kehilangan, begitu menyedihkan, dan begitu berat menerima kenyataan ini. Dulu kita pernah bertekad untuk selalu bersama sampai Ujian Nasional terlampaui, namun sekarang apa? Aku berharap bahwa ini hanyalah mimpi, hanyalah angan-angan mereka yang tidak mau menerima keberadaanya. Tapi... Ini nyata, ini asli, ini bukan bohong. 

Mengapa semua terjadi secara mendadak, secara spontan, memang tidak secara bertahap? air mata bercucuran dari semua mata yang menghiasi disekelilingnya, berharap ini adalah tipuan, ini tidak benar, dan berharap akan kembali lagi kesedia kala. Ketika kami dikumpulkan, aku kira kami akan membahas tugas atau pekerjaan rumah lainnya. Eeeh, tidak ada angin, tidak ada hujan, kok Aulia maju kedepan! Apa yang sebenarnya terjadi? Oooh mungkin sebagai bahan pertanyaan untuk ustadzah, tapi itu merupakan harapan yang salah besar. 

Akupun begitu kuatnya menahan air mata, tapi tak kuat membendungnya. Semua menangis, akupun ikut menangis sejadi-jadinya. Walau baru setahun bersama, tapi kalo udah jadi keluarga, rasanya berat untuk mengikhlaskan kepegiannya. Perginya karena mengikuti lokasi kerja orang tuanya, dan benar saja. Ia meninggalkan sejuta kenangan, yang akan dikenang. Semua itu akan ada masanya, ketika dewasa nanti kita bisa reuni bersama, bertemu bersama seperti saat ini. 

Tapi yang aku ingat dan tak terlupakan, teman-teman langsung menangis sejadi-jadinya. Entah itu laki-laki maupun perempuan, semua sibuk dengan air mata masing-masing. Banyak yang mendoakan bahkan ada yang nggak terima kalo Aulia pindah. Semua menghormati keputusan orang tua Aulia, tapi disatu sisi personil kami waktu itu berkurang satu, yang artinya keanggotaan kami tidak lengkap seperti awal bertemu.

Ketika kubertemu dengannya lagi, aku ingin mengucapkan, "Hai! Apa Kabar?" tapi itu sulit, karena ia pindah ke Kota Jakarta, yang memang jaraknya sangatlah jauh dari Kota Gombong. Entah apa yang terjadi setelahnya, namun semua terkenang pada memori-memori yang tersimpan rapi di kepalaku ini. Terima kasih Aulia, kau pemberi warna pada kelas satu kita :)

#19

Komentar