Air mengalir bergemericik, angin berburu spoi-spoi. Entah hari apa itu. Aku hanya duduk termenung didalam kelas. Tak seperti biasanya yang keluar bermain-main, justru malah berdiam diri di sudut ruang kelasku. Aku lupa ketika itu kelas berapa, yang pasti kejadian itu terjadi ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Seperti siswa yang lain, aku juga merupakan siswa yang bisa dikatakan gampang bergaul. Tapi ketika itu, aku tak ingin keluar kelas. Hanya ingin di dalam, sambil membaca atau bermain dengan buku-buku pelajaran.
Ketika itu, mungkin aku sedang senang-senangnya mengikuti ekskul kaligrafi dan melukis. Karena memang hobi dan passionku ada di ekskul ini. Disana aku bertemu dengan seorang kakak, yang pintar sekali dalam hal kaligrafi dan melukis. Namanya Faizal, biasa aku panggil Mas Izal. Dia merupakan seniorku di ekskul melukis ini.
Pada pertengahan tahun, aku dan Mas Izal mengikuti lomba tingkat kecamatan. Aku dari cabang lomba melukis, sedangkan Mas Izal dari cabang Kaligrafi. Dan alhamdulillah semua berjalan seperti biasanya. Dan kemudian aku mendapatkan juara 2 Se-Kecamatan Sempor. Itu merupakan hal yang paling berkesan buat aku, karena dapat membanggakan sekolah dan mengharumkan nama sekolah walaupun masih di kancah kecamatan.
Mas Izal adalah sahabat sekaligus kakak yang selalu menjadi tempat untuk mencurahkan keluh kesahku ketika SD. Dengan adanya dia, aku jadi semakin terarah untuk menjalani hidup ini. Terutama ketika SD yang pada saat itu aku memang seperti tidak punya teman tetap. Maksudnya tidak ada yang paling spesial, yang ada hanya teman yang semua terbaur dengan sendirinya.
Dulu pernah ada satu hal yang paling kuingat. Ketika istirahat, aku dan Mas Izal duduk di bangku teras kelas. Kita disana bermain, maju mundurin kursi, sehingga bangku yang kami dudukipun menjadi bergerak ke depan dan ke belakang. Hingga akhirnya... GUBRAK!!!! Kami berdua jatuh semua. Dan kepalaku terjedot dengan sangat keras, tapi aku hanya meringis sedikit kesakitan. Heheheee... Tapi pingin ngakak, kalo diingat :v
Karena aku dan Mas Izal beda tingkatan, maksudnya lebih tua dia satu tahun. Jadi, dia diwisuda dulu. Ketika ia diwisuda aku duduk di kelas 5 SD. Dan saat sebelum wisuda itu. Aku masih ingat, aku mempersiapkan kado terbaik, kado yang tak dapat aku ingat lagi, isinya apa aja. Yang jelas ada sepucuk surat akan persahabatan kami waktu itu. Entah mengapa sejak pertemuannya ketika di ekskul Kaligrafi dan Melukis, aku menganggapnya seperti kakakku sendiri. Dan ternyata waktu membuktikan, bahwa dia harus diwisuda dahulu daripada aku.
Moment ketika ngasih kado itu, sungguh sangat mengharukan. Dilihatin sama Mama dan oleh Ibunya Mas Izal. Semua itu menjadikan bukti kalo persahabatan ini nggak boleh terputus. Dear Mas Izal.. Hariku ketika SD seketika berubah menjadi lebih cerah setelah mengenal seorang kakak yang baik sepertimu. Dan semoga bisa bertemu dan bukan hanya bertegur sapa, melainkan juga ngobrol dan cerita-cerita lagi seperti dahulu kala. Heheheeee....
#24
Komentar