Banyak orang diluar sana yang memiliki kehidupannya masing-masing. Seluruh hiruk pikuk kehidupan bersekolah pasti menjadi tantangan bagi orang tua dalam memberikan uang jajan atau uang saku kepada anak-anaknya. Uang saku yang diberikan setiap orang tua kepada anaknya itu berbeda, tergantung kemampuan masing-masing dan tidak menutup kemungkinan, ada yang diberi uang jajan sangatlah banyak, bahkan ada pula yang diberi secukupnya, bahkan malah serba kekurangan. Tak terkecuali seperti diriku.
Aku merupakan anak dari bapak yang bekerja sebagai pedagang di pasar, dan ibu yang menjual susu kedelai. Keluargaku alhamdulillah tercukupi segala kebutuhannya. Uang sakuku saja dahulu ketika SD hanya seribu rupiah. Dan seribu itu kalo diitung-itung, cuman dapet 2 martabak yang gak ada isinya, atau jus jambu yang sangat segar. Tapi semua itu aku hindari, dan uang saku yang ada, aku tabung. Supaya aku dapat memiliki cadangan uang tabungan untuk kedepannya.
Memang tahun 2007 belum seinflasi seperti sekarang, yang seribu saja ditahun itu masih bisa dapet jajan banyak, eeh boro-boro sekarang dapet kek gituan, yang ada seribu udah nggak bisa dapet apa-apa, palingan cuman tempe goreng, dan itupun ukuran kecil.
Yang paling aku ingat akan moment ini, yaitu aku menahan untuk tergoda membeli jus jambu yang saat itu memang sedang ngetrend di sekolah. Semua teman-teman membeli jus jambu yang katanya segar itu. Dimana ada teman disitu aja jus jambu. Dan yang membuat aku berpikir dua kali, kalau aku beli Jus Jambu itu, berarti aku telah menghabiskan semua uang jajanku yang seribu itu. Betapa beratnya merelakan seribu untuk membeli jus jambu terenak dan tersegar itu.
Mentok-mentoknya, kalau lagi haus dan nggak mau ngeluarin uang buat jus jambu, ya aku akan segera menuju kelas dan mengambil air mineral dari air galon dispenser itu. ngenes yah :( tapi tetap bersyukur :)
#18
Komentar